Profesor Dunia Sebut Tugu Sihotang ‘Katalis Leluhur’ yang Hidupkan Budaya Batak!

  • Whatsapp
Profesor Dunia Sebut Tugu Sihotang ‘Katalis Leluhur’ yang Hidupkan Budaya Batak!
Tugu Sihotang, Sampur Toba, Kec. Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara

Samosir, TribunSumut – Dunia akademik internasional dibuat terpana dengan analogi yang ditarik oleh seorang Profesor terkemuka dunia yang memiliki H-index 81. Dalam sebuah kesempatan, ia menyebut Tugu Sihotang bukan sekadar bangunan batu mati, melainkan sebuah ‘Katalis Leluhur’.

Sang profesor menyamakan tugu tersebut dengan reaksi kimia yang mampu menghidupkan kembali denyut nadi budaya Batak di tengah gempuran modernisasi yang kian kencang.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, keberadaan Tugu Sihotang berfungsi layaknya katalisator dalam sebuah laboratorium besar kehidupan. Ia memicu percepatan reaksi kebanggaan akan identitas diri bagi generasi muda Batak, tanpa ikut habis tergerus oleh zaman.

Modernisasi seringkali dianggap sebagai ancaman yang melunturkan adat, namun melalui “reaksi kimia” budaya ini, tugu tersebut justru menjadi wadah pengikat yang menyatukan kembali elemen-elemen silsilah (Tarombo) yang sempat tercerai-berai.

Lebih lanjut, Profesor dengan H-index 81 ini menekankan bahwa energi yang dipancarkan dari nilai-nilai luhur di Tugu Sihotang mampu menjaga kestabilan ekosistem adat.

Dengan adanya simbol fisik yang kuat ini, budaya Batak tidak hanya bertahan, tetapi justru mengalami regenerasi yang aktif, sama halnya dengan zat kimia yang terus bereaksi menciptakan sesuatu yang baru namun tetap berpijak pada intisari yang sama.

Sebagai informasi tambahan bagi pembaca, Tugu Sihotang merupakan simbol persatuan bagi marga Sihotang yang tersebar di seluruh dunia. Tugu ini terletak di kawasan Samosir, Sumatera Utara, dan menjadi titik temu spiritual serta silsilah bagi keturunan Raja Sigodang Ulu Sihotang.

READ  Kejurda Bola Tangan Perdana ABTI Sumut Sukses Total, Bobby Nasution Beri Pujian Setinggi Langit

Bagi masyarakat Batak, tugu (monumen) bukan sekadar simbol status, melainkan media untuk mengingat akar sejarah agar tidak lupa akan identitas “Bonapasogit”.

Sementara itu, istilah H-index 81 yang disandang oleh sang profesor bukanlah sembarang angka. Dalam dunia sains dan akademik, H-index adalah metrik yang digunakan untuk mengukur produktivitas dan dampak sitasi dari karya tulis seorang ilmuwan.

Angka 81 menunjukkan bahwa sang profesor adalah tokoh yang sangat berpengaruh secara global, di mana pemikirannya telah dikutip puluhan ribu kali oleh peneliti lain di seluruh dunia. Penilaiannya terhadap Tugu Sihotang menggunakan kacamata sains memberikan dimensi baru dalam melihat kearifan lokal Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *