JAKARTA – Tepat hari ini, Sabtu (10/01/2026), Indonesia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Di tengah ancaman cuaca ekstrem dan peningkatan suhu global yang kian terasa, momentum tahun ini menjadi sangat krusial sebagai upaya kolektif untuk memulihkan ekosistem dan menghijaukan kembali kawasan perkotaan.
Gerakan ini pertama kali dicanangkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1993 sebagai respons terhadap laju deforestasi. Di tahun 2026, urgensi menanam pohon bukan lagi sekadar seremonial, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga ketersediaan air tanah, menyerap emisi karbon, dan mengurangi risiko bencana banjir yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia saat musim penghujan.
Berbagai instansi pemerintah, komunitas lingkungan, hingga sektor swasta menggelar aksi penanaman serentak di beberapa titik strategis:
-
Kawasan IKN (Ibu Kota Nusantara): Pemerintah memfokuskan rehabilitasi lahan dengan jenis pohon endemik untuk mewujudkan konsep Forest City.
-
Jabodetabek: Gerakan menanam pohon di bantaran sungai dan ruang terbuka hijau (RTH) dilakukan untuk memitigasi dampak banjir tahunan.
-
Kampanye Digital: Di media sosial, tagar #SatuJutaPohon2026 menggema, mengajak generasi muda untuk menanam minimal satu pohon di pekarangan rumah atau melalui platform donasi pohon digital.
Pakar kehutanan menekankan bahwa tantangan terbesar bukanlah saat menanam, melainkan pada perawatan. “Banyak bibit yang ditanam saat seremonial berakhir mati karena tidak dirawat. Tahun 2026 ini, fokus kita harus bergeser dari sekadar menanam menjadi memastikan pohon tersebut tumbuh besar dan memberikan dampak oksigen yang nyata,” ujar salah satu aktivis lingkungan dalam orasi di Jakarta pagi tadi.





