KH. Muhammad Nuh: Konsolidasi Umat dan Politik Substansial adalah Kunci Memperkokoh Barisan Islam di Sumatera Utara!

  • Whatsapp
KH. Muhammad Nuh: Konsolidasi Umat dan Politik Substansial adalah Kunci Memperkokoh Barisan Islam di Sumatera Utara!

Medan – Getaran semangat persatuan menggema di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara!

MUI Sumut sukses besar menggelar Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 yang berlokasi di Grand Inna Hotel Medan, selama dua hari penuh, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025). Acara akbar ini menjadi panggung utama bagi para ulama, akademisi, dan pimpinan organisasi masyarakat Islam untuk menguatkan ikatan ukhuwah Islamiyah dan sekaligus merajut solidaritas umat yang lebih kokoh di Bumi Sumatera Utara.

Bacaan Lainnya

Mengusung tema inspiratif, “Memperkuat Soliditas Umat untuk Membangun Peradaban Islam yang Maju dan Berkah,” kegiatan dua hari ini disemarakkan dengan pandangan mendalam dari Ketua PW Persis Sumatera Utara, H. Muhammad Nuh, MsP. Beliau mengupas tuntas peran krusial umat Islam dalam ukiran sejarah bangsa hingga dinamika politik yang terjadi saat ini.

Muhammad Nuh mengingatkan kita bahwa umat Islam adalah pahlawan besar kemerdekaan Indonesia. Kontribusi monumental, seperti Resolusi Jihad, menjadi fondasi yang kini kita rayakan sebagai Hari Santri Nasional. Beliau juga membangkitkan ingatan akan keberanian Bung Tomo yang lantang mengumandangkan takbir pada 10 November 1945, momen heroik yang kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan.

Membahas arena politik, Muhammad Nuh memilahnya menjadi dua jalur strategis: politik substansial dan politik prosedural. Beliau menyebut, politik substansial adalah wadah tempat kepentingan-kepentingan utama umat Islam bertemu, sementara politik prosedural yang bergerak cepat sering kali harus menghadapi tantangan teknis.

“Politik substansial harus terus berlanjut, dibarengi politik prosedural yang dinamis. Dengan munculnya partai-partai bernuansa Islam, sikap kita harus terbuka menerima realita ini, seperti halnya kita menghormati perbedaan mazhab,” tegasnya, mengajak umat untuk bersikap dewasa dalam berpolitik.

Beliau menekankan betapa pentingnya konsolidasi umat dalam setiap langkah pembangunan, di mana setiap elemen harus mengambil peran aktif sesuai dengan kapasitas dan kontribusi terbaiknya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar dinamika politik harus disikapi secara cepat dan proaktif. Sebagai contoh, jika Nias kelak resmi menjadi provinsi baru, MUI di kawasan tersebut harus segera bersiap menghadapi perubahan dan memastikan organisasinya layak naik kelas menjadi MUI Provinsi Nias.

M. Nuh menambahkan catatan penting agar MUI Sumut tampil lebih proaktif dalam kancah politik. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengajak bicara para politisi muslim. Tujuannya agar kekuatan umat Islam tidak hanya sebatas kekuatan moral dan sosial, namun juga tertransformasi menjadi kekuatan politik yang nyata.

Acara inspiratif ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tukar gagasan yang hangat antarulama dan tokoh Muslim, sukses memperkuat jaringan kolaborasi umat Islam dalam berbagai dimensi kehidupan di Sumatera Utara.

READ  Perjalanan Kereta Terpanjang di Dunia: Dari Portugal Menuju Singapura dalam 21 Hari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *